<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wolio</title>
	<atom:link href="http://wolio.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wolio.wordpress.com</link>
	<description>Jejak Sejarah Yang Terlupakan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Feb 2011 13:30:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wolio.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ae448146334c350380957cfc5e7c846d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Wolio</title>
		<link>http://wolio.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wolio.wordpress.com/osd.xml" title="Wolio" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wolio.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Keunikan Mata Uang Kesultanan Buton &#8220;KAMPUA&#8221;</title>
		<link>http://wolio.wordpress.com/2010/04/26/keunikan-mata-uang-kesultanan-buton-kampua/</link>
		<comments>http://wolio.wordpress.com/2010/04/26/keunikan-mata-uang-kesultanan-buton-kampua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 13:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wolio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benda Pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wolio.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu2nya yang pernah beredar di Indonesia.Menurut cerita rakyat Buton,Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=139&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu2nya yang pernah beredar di Indonesia.Menurut cerita rakyat Buton,Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-139"></span></div>
<div id="_mcePaste">Pada jaman bertahtanya Sultan Buton yang keempat,yaitu Sultan Dayan Ihsanudin (La’ Elangi),sekitar tahun 1597-1631 perdagangan di kerajaan Buton mengalami masa kejaan. Para pedagang dari daerah2 lain,termasuk pedagang2 dari Cina dan Portugis datang dengan kapal2nya ke kerajaan Buton. Mengingat bahwa semua transaksi di wilayah kerajaan Buton harus menggunakan uang Kampua,maka sebelumnya para pedagang tersebut harusmenukarkan uang uang mereka dengan uang Kampua. Penukaran dilakukan kepada Money Changer yang banyak terdapat di pelabuhan,ataupun di lokasi2 perdagangan. Setelah selesai berdagang,mereka boleh menukarkan sisa uang Kampua yang dimilikinya dengan mata uang yang diinginkan. Namun tentunya ada juga pedagang2 yang tidak menukarkan,tetapi menyimpan Kampua itu sebagai kenang-kenangan”Uang aneh” dari Buton.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dalam proses pembuatan dan pered aran uang Kampua inimandat sepenuhnya diserahkan kepada Mentri Besar atau yang disebut “Bonto Ogena”.Dialah yang akan melakukan pengawasan serta pencatatan atas setiap lembar kain Kampua,baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong. Penghitungan mengenai situasi dan kondisi wilayah serta jumlah perkembangan penduduk yang ada,perlu diperhitungkan agar jumlah peredaran Kampua tetap dapat terkontrol dan tidak menimbulkan inflasi. Pengawasan oleh BontoOgena juga diperlukan agar tidak timbul pemalsuan2,sehingga hampir setiap tahunya motif dan corak Kapua akan selalu dirubah-rubah.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Setelah kain2-kain selesai ditenun,kemudian untuk dipotong2 untuk menjadi uangKampua. Pemotongan lembar kain menjadi Kampua itu juga ada prosedurnya yang juga ditentukan oleh Mentri Besar. Cara pemotonganya adalah dengan mengukur panjang dan lebar Kampua,dengan cara : Ukuran empat jari untuk lebarnya,dan sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke ujung jari tangan,untuk panjangnya. Sedangkan tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang Mentri Besar atau “Bonto Ogena” itu sendiri! Oleh karenanya ukuran lebar dan panjang Kampua yangdiproduksi tidak selalu sama,tergantung dari panjang pendeknya ukuran tangan Mentri Besar yang saat itu berkuasa. Jika nantinya yang menjadi Mentri Besar mempunyai tangan yang pendek,maka ukuran Kampua akan menjadi pendek pula. Sebaliknya jika “Bonto Ogena” mempunyai tangan yang lebih panjang,maka hasil jadi Kampua akan menjadi lebih panjang,sesuai dengan ukuran tanganya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Pada awal pembuatanya,standard yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu “bida” (lembar) Kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam. Namun dalam perkembangan selanjutnya,standard ini diganti dengan nilai “Boka”,dimana satu Bida sama dengan 30 Boka. Ka adalah suatu standard nilai yang umum digunakan oleh masyarakat Buton,yang biasanya digunakan pada waktu upacara2 adat perkawinan,kematian,dan sejenisnya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Namun setelah Belanda mulai memasuki wilayah Buton kira2 tahun 1851,fungsi Kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan dengan uang2 buatan “Kompeni”. Sampai akhirnya nilai Kampua menjadi sangat tidak berarti,dimana pada waktu itu nilai tukar untuk 40 lembar Kampua sama dengan 10 sen duit tembaga,atau setiap 4 lembar Kampua hanya mempunyai nilai sebesar 1 sen saja!. Walaupun demikian Kampua tetap digunakan pada desa2 tertentu diKepulauan Buton sampai dengan tahun 1940.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Sumber :</div>
<div id="_mcePaste">Kintamoney Blogspot</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wolio.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wolio.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=139&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wolio.wordpress.com/2010/04/26/keunikan-mata-uang-kesultanan-buton-kampua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f25be4550e4ea910a6253e722e7fad2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">wolio</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengulas Kedatangan Mia Patamiana : (2). Kedatangan Armada Simalui</title>
		<link>http://wolio.wordpress.com/2010/04/26/mengulas-kedatangan-mia-patamiana-2-kedatangan-armada-simalui/</link>
		<comments>http://wolio.wordpress.com/2010/04/26/mengulas-kedatangan-mia-patamiana-2-kedatangan-armada-simalui/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 13:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wolio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wolio.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Asis SIMALUI adalah seorang manusia sakti, adiknya bernama SIBAANA serta pembantu utamannya SIJAWANGKATI. Simalui berasal dari daerah bambu, negeri Melayu Pariaman. Mereka meninggalkan negeri asalnya pada 15 hari bulan Syaban tahun Hijriyah. Sama halnya Sipanjonga, simalui juga membawa rombongan 40 kepala keluarga sebagai pengikutnya. Berbulan-bulan mengarungi lautan dan daratan dengan bahtera yang namanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=137&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">Oleh : Asis</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">SIMALUI adalah seorang manusia sakti, adiknya bernama SIBAANA serta pembantu utamannya SIJAWANGKATI. Simalui berasal dari daerah bambu, negeri Melayu Pariaman. Mereka meninggalkan negeri asalnya pada 15 hari bulan Syaban tahun Hijriyah. Sama halnya Sipanjonga, simalui juga membawa rombongan 40 kepala keluarga sebagai pengikutnya. Berbulan-bulan mengarungi lautan dan daratan dengan bahtera yang namanya “POPANGUA”. Diburitannya dikibarkan bendera kerajaan leluhurnya yang brwarna kuning hitam selang seling. Bendera itu dinamai “BUNCAHA”.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-137"></span></div>
<div id="_mcePaste">Pada akhir tahun 1236 M, rombongan Simalui terdampar disebelah timur laut negeri Buton. Jadi hampir bersamaan kedatangan Sipanjonga dan rombongan. Daerah pendaratan armada Simalui disebut ‘KAMARU”, bentengnya disebut “WONCO”. Setibanya Simalui dan rombongannya membuat pemukiman dan benteng pertahanan. Dan juga membuat lubang pengibaran bendera didalam areal benteng yang dibuat tadi.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Tidak berapa lama menempati daerah Kamaru setalah kehidupan sudah berjalan baik, Simalui mengutus pembantu utamanya Sijawangkati untuk mencari daerah baru yang cocok untuk pertanian.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Maka berangkatlah Sijawangkati dan pengikutnya menyusuri pantai daratan Buton. Tibalah disuatu tempat yang bernama “WASUEMBA” (sekarang menjadi nama sebuah desa yang diambil dari nama pengikut dari Sijawangkati) dan membuat perkampungan serta benteng pertahanan yang bernama “KONCU” di Wabula (sekarang wilayah Kec. Pasarwajo Kab. Buton). Sijawangkati juga memerintahkan pengikutnya untuk membuat lubang pengibaran bendera leluhurnya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Tidak berapa lama, kedua rombongan (Sipanjonga, Sitamanajo, Simalui dan Sijawangkati) yang telah menempati 4 wilayah yang berbeda satu sama lain sudah saling kenal, serta saling mengunjungi tempat masing-masing maka dibuatlah suatu kesepakatan untuk mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah diputuskan, bahwa mereka akan membuat perkampungan yang dinamai “BATU YIGANDANGI”. Dan yang menjadi ketua bandar perkampungan adalah Sipanjonga. (yang sekarang perkampungan ini disebut “LELE MANGURA”, diabadikan menjadi tempat makam pahlawan ksatria Buton dan Muna yakni “LAKI LA PONTO alias MURHUM”, Raja Buton VI atau Sultan Buton I).</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Dan mulai saat itulah Sipanjongan tinggal di Batu Yigandangi atau Lele Mangura tanpa seorang pendamping atau seorang osteri sampai akhir hayatnya, karea memang dia tidak pernah menikah.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Suatu saat ketua bandar Sipanjonga berada ditengah-tengah kerumunan orang banyak, sambil berteriak dalam bahasa sendiri dengan ucapan “WELIA” artinya buatlah perkampungan.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Welia terdiri dari suku kata : WE yang artinya buatlah dan LIA artinya perkampungan. Ucapan Sipanjonga ini dibadikan menjadi nama Kecamatan Wolio (sekarang berada di wilayah Kota Bau-Bau).</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Setelah bandar perkampungan selesai dibentuk dan mengakui keberadaan masing-masing maka sejak saat itu para ksatria dibebaskan untuk mencari tempat bermukim secara perorangan. Yang semula bermukim di Lambelu dan Kamaru sebagian pergi mengadu nasib di negeri Muna. Begitu juga mereka yang bermukim di Tobe-Tobe telah pergi ke Tiworo dan Pulau Kabaena. Dan merekalah yang pertama menghuni daerah-daerah tersebut.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">Sumber :</div>
<div id="_mcePaste">Saduran oleh La Ode Ichram tahun 1996, dari tulisan La Ode Tanziylu terjemahan Buku Tembaga yang judul aslinya (ASSAJARU HULIQA DAARUL BATHNIY WA DAARUL MUNAJAT dan tulisan La Ode Zaenu “Buton dalam Sejarah Kebudayaan”.</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wolio.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wolio.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=137&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wolio.wordpress.com/2010/04/26/mengulas-kedatangan-mia-patamiana-2-kedatangan-armada-simalui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f25be4550e4ea910a6253e722e7fad2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">wolio</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengulas Kedatangan Mia Patamiana : (1). Sipanjonga dan Rombongannya</title>
		<link>http://wolio.wordpress.com/2010/04/24/mengulas-kedatangan-mia-patamiana-1-sipanjonga-dan-rombongannya/</link>
		<comments>http://wolio.wordpress.com/2010/04/24/mengulas-kedatangan-mia-patamiana-1-sipanjonga-dan-rombongannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 08:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wolio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wolio.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Asis Sumber : Saduran oleh La Ode Ichram tahun 1996, dari tulisan La Ode Tanziylu terjemahan Buku Tembaga yang judul aslinya (ASSAJARU HULIQA DAARUL BATHNIY WA DAARUL MUNAJAT dan tulisan La Ode Zaenu “Buton dalam Sejarah Kebudayaan”. SIPANJONGA adalah orang sakti yang berasal dari suku Melayu di Negeri Pasai. Mereka meninggalkan negeri asalnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=135&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Asis</p>
<p>Sumber :<br />
Saduran oleh La Ode Ichram tahun 1996, dari tulisan La Ode Tanziylu terjemahan Buku Tembaga yang judul aslinya (ASSAJARU HULIQA DAARUL BATHNIY WA DAARUL MUNAJAT dan tulisan La Ode Zaenu “Buton dalam Sejarah Kebudayaan”.</p>
<p>SIPANJONGA adalah orang sakti yang berasal dari suku Melayu di Negeri Pasai. Mereka meninggalkan negeri asalnya pada tiga likur malam bulan Sya’ban tahun 634 H dengan mengajak Sitamanajo sebagai pembantu utamanya serta 40 orang kepala keluarga sebagai pengikutnya.<br />
<span id="more-135"></span><br />
Kepergian rombongan besar ini dari negeri asalnya adalah untuk mencari daerah yang telah diberitakan oleh leluhurnya untuk ditempati. Berbulan-bulan mengarungi lautan dan melewati daratan dengan menggunakan bahtera (kapal) bernama “LAKULEBA”. Diburitan bahtera dikibarkan bendera kerajaan leluhurnya yang berwarna hitam putih selang seling, dalam bahasa Buton disebut “LONGA-LONGA”. Nama armada yang digunakan oleh Sipanjonga dan rombongannya diabadikan menjadi nama perkampungan yaitu “Desa Lakaiiba”.</p>
<p>Pada tahun 1936 M, armada Sipanjonga mendarat disalah satu daratan negeri Buton. Didaratan tersebut mereka mencari dataran tinggi untuk bisa membina/mengawal kaumnya serta menjaga kemungkinan dari serangan musuh. Rombongan manusia besar dan sakti ini membuat benteng pada sebukit yang dinamai “TOBE-TOBE”. Setelah benteng tersebut rampung, mereka kembali ketempat dimana mereka petama kali terdampar, satu tempat yang dikelilingi benteng untuk mengibarkan bendera. Tempat pengibaran bendera tersebut dinamai “SULAA”. Dan diabadikan menjadi nama sebuah kelurahan yakni Kelurahaan Sulaa (sekarang berada diwilayah Kec. Betoambari Kota Bau-Bau). Hanya saja benteng tersebut sudah dirusak akibat perang dan tangan yang tidak bertanggungjawab.</p>
<p>Setelah pembuatan benteng dan pengibaran bendera selesai dan kehidupan di Tobe-tobe sudah berjalan baik. Sipanjonga meminta kepada Sitamanajo untuk mengajak kaum pengikutnya mencari daerah baru sebagai tempat tinggal dan mengembangkan turunannya.</p>
<p>Setelah mempersiapkan segala perlengkapannya, Sitamanajo dan pengikutnya tidak berpamitan kepada pimpinannya Sipanjonga. Rombongan kecil yang dipimpin Sitamanjo meninggalkan Sulaa menuju arah timur menyusuri pantai Buton yakni di Teluk Bungi Todanga (sekarang wilayah Kec. Kapontori Kab. Buton) untuk beristirahat. Kemudian rombongan Sitamanajo melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu dataran tinggi yang letaknya berada disebelah timur laut dari tempat kediaman pimpinannya Sipanjonga di Tobe-Tobe.</p>
<p>Oleh karena dataran tinggi baru diketemukan oleh Sitamanajo sangat bagus untuk pemukiman, maka rombongan ini mengakhiri perjalanannya dengan membuat perkampungan serta benteng pertahanan dipuncak gunung yang disebutnya “LAMBELU” (sekarang daerah ini merupakan perbatasan Buton dan Muna, dikenal dengan nama Desa Lipu Malanga atau Dataran Tinggi, berada di wilayah Kab. Buton) serta nama bentengnya adalah “KAMOSOPE” (dalam bahasa Buton diartikan Menyerupai Sebuah Kapal). Benteng tersebut masih ada sampai sekarang dan dilengkapi dengan dua pucuk meriam yang posisinya berbeda arah. Satu pucuk moncongnya mengarah kesebelah barat dan satunya lagi mengarah kesebelah utara. Dan ditempat ini pula Sitamanajo juga mengibarkan bendera leluhurnya yakni bendera Longa-Longa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wolio.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wolio.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=135&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wolio.wordpress.com/2010/04/24/mengulas-kedatangan-mia-patamiana-1-sipanjonga-dan-rombongannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f25be4550e4ea910a6253e722e7fad2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">wolio</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makanan Khas Wolio “NASI GORENG KAGILI”</title>
		<link>http://wolio.wordpress.com/2010/04/24/makanan-khas-wolio-%e2%80%9cnasi-goreng-kagili%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://wolio.wordpress.com/2010/04/24/makanan-khas-wolio-%e2%80%9cnasi-goreng-kagili%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 08:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wolio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wolio.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Bahan : -          Kagili (Jagung Giling) 500 gr -          Ikan Tuna Asap 50 gr -          Minyak Goreng secukupnya -          Santan 350 cc -          Bawang Merah 7 biji -          Bawang putih 5 biji -          Cabe Merah 4 biji -          Terasi seujung sendok teh -          Garam secukupnya -          Daun Pandan 1 lbr Cara Membuat : Kagili direndam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=132&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan :</p>
<p>-          Kagili (Jagung Giling) 500 gr</p>
<p>-          Ikan Tuna Asap 50 gr<span id="more-132"></span></p>
<p>-          Minyak Goreng secukupnya</p>
<p>-          Santan 350 cc</p>
<p>-          Bawang Merah 7 biji</p>
<p>-          Bawang putih 5 biji</p>
<p>-          Cabe Merah 4 biji</p>
<p>-          Terasi seujung sendok teh</p>
<p>-          Garam secukupnya</p>
<p>-          Daun Pandan 1 lbr</p>
<p>Cara Membuat :</p>
<p>Kagili direndam kurang lebih 1 jam, diangkat kemudian di aron dengan santan. Setelah kering, diangkat kemudian di kukus sampai masak. Selanjutnya panasi minyak, tumis bumbu-bumbu sampai harum. Kemudian masukan kagili yang sudah dikukus tadi smpai bercampur rasa dengan bumbu hingga matang, dan siap dihidangkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wolio.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wolio.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=132&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wolio.wordpress.com/2010/04/24/makanan-khas-wolio-%e2%80%9cnasi-goreng-kagili%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f25be4550e4ea910a6253e722e7fad2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">wolio</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Muasal Masyarakat Buton (Last)</title>
		<link>http://wolio.wordpress.com/2010/04/21/mengenal-muasal-masyarakat-buton-chapt-2/</link>
		<comments>http://wolio.wordpress.com/2010/04/21/mengenal-muasal-masyarakat-buton-chapt-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 12:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wolio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[bau-bau]]></category>
		<category><![CDATA[buton]]></category>
		<category><![CDATA[wolio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wolio.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : ASIS II. Memperkenalkan Masyarakat Yang Dianggap Sebagai Suku Terasing 1. Suku Wakumbu-kumbu/Wawoana/Wambu-mbu Suku Wakumbu-Kumbu/Wawoana/Wambu-Mbu adalah suku terasing yang mendiami salah satu wilayah hutan Kapontori. Dulu suku Wambu-mbu menyatu dengan masyarakat Kapontori tetapi mereka mempunyai daerah pemukiman tersendiri dipedalaman Kapontori. Mereka adalah masyarakat biasa yang taat pada pemerintah Kesultanan Buton. Setiap musim panen mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=128&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : ASIS</p>
<p style="text-align:justify;">II. Memperkenalkan Masyarakat Yang Dianggap Sebagai Suku Terasing</p>
<p style="text-align:justify;">1. Suku Wakumbu-kumbu/Wawoana/Wambu-mbu</p>
<p style="text-align:justify;">Suku Wakumbu-Kumbu/Wawoana/Wambu-Mbu adalah suku terasing yang mendiami salah satu wilayah hutan Kapontori. Dulu suku Wambu-mbu menyatu dengan masyarakat Kapontori tetapi mereka mempunyai daerah pemukiman tersendiri dipedalaman Kapontori. Mereka adalah masyarakat biasa yang taat pada pemerintah Kesultanan Buton. Setiap musim panen mereka membawa upeti kepada Sultan Buton berupa hasil kebun dan hasil ternak./<br />
<span id="more-128"></span><br />
Budayawan mencerikan :<br />
Wambu-mbu artinya dalam bahasa Buton adalah hilang, karena awal abad ke-20 pemerintah Belanda dan Kesultanan Buton mengadakan kerjasama politik yang ditandai dengan seringnya pemerintah Belanda datang ke Bau-Bau, sehingga mengakibatkan masyarakat suku Wambu-mbu bertekad untuk memisahkan diri dari Kesultanan Buton dengan memohon kepada Allah agar perkampungan mereka tidak dapat dilihat oleh orang lain. Kuasa Allah permohonan itu dikabulkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya masyarakat Wakumbu-kumbu samalah dengan dengan suku penduduk asli. Persamaannya adalah suku Wambu-mbu memluk agama Islam, mata uang sebagai alat tukar mengikuti mata uang masyarakat Kapontori, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Pancana, akan tetapi mereka juga mengetahui bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">III. Memperkenalkan Masyarakat Yang Dipindahkan Kedaerah Baru</p>
<p style="text-align:justify;">1. Masyarakat Waopini</p>
<p style="text-align:justify;">Kesultanan Buton ada yang disebut Kamboruboru Talu Palena, yakni Tanayilandu, Tapi-tapi dan Kumbewaha. Kamboruboru adalah induk dari kaum bangsawan yang ada di Kesultanan Buton.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah diresmikan kamboruboru di mufakati hanya berjumlah 40 rumah, jika kaum bangsawan yang tinggal di induknya telah melebihi 40 rumah maka lainnya harus pindah ketempat lain yaitu menjadi masyarakat Waopini .masyrakat Waopini tersebut mempelajari pegunungan antara Sampolawa dan Batauga, makin lama penduduk Waopini makin banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Masyarakat Inulu<br />
Masyarakat Inulu adalah perpindahan masyarakat Kamboruboru dari Tanayilandu, jika kaum bangsawan yang tinggal di Kamboruboru Tanayilandu sudah melebihi 40 rumah maka lainnya harus dipindahkan menjadi masyarakat Inulu berlokasi di wilayah Kecamatan Mawasangka.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Masyarakat Kambolosua</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat Kambolosua di Kecamatan Kapontori terbentuk akibat penduduk dari Kamboruboru Tapi-tapi, karena penduduk Kamboruboru Tapi-tapi dibatasi sampai 40 rumah. Jadi masyarakat Kambolosua adalah masyarakat baru yang terdiri dari perpindahan bangsawan yang merupalan kelebihan penduduk Tapi-tapi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wolio.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wolio.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wolio.wordpress.com&amp;blog=6246753&amp;post=128&amp;subd=wolio&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wolio.wordpress.com/2010/04/21/mengenal-muasal-masyarakat-buton-chapt-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f25be4550e4ea910a6253e722e7fad2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">wolio</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
