Oleh : ASIS
I. Suku Pertama Yang Mendiami Pulau Buton
1. Suku Wambolebole
Pulau Buton didatangi oleh sekelompok masyarakat berasal dari bangsa Neutro Melayu yang menyebar dikawasan Asia Tenggara bersama suku terasing lainnya di Nusantara pada abad ke – 3 sebelum Masehi. Bentuk tubuhnya memiliki kesamaan satu sama lain, perilakunya pun demikian. Mereka berjalan beriringan-iringan dan berjejer satu persatu kebelakang. Cara berpakaian laki-laki dengan menggunakan destar diikat dengan tali hutan, sementara perempuan memakai sarung tradisional yang khusus untuk wanita disebut Kasopa. Benangnya diberi warna dari daun nila yang disebut Lolo.
Mereka tidak melakukan percakapan bila berada ditengah-tengah orang banyak. Bila dianggap perlu mereka berbisik-bisik atau menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara dengan temannya. Bila mereka berada dipasar, mereka membeli tembakau iris, kapur sirih, buah pinang dan bahan keperluan lain seperti ikan kering dan gula merah. Mereka datang tidak diketahui dari mana asalnya, secara tiba-tiba pun mereka kembali tanpa bekas.
Suku ini mendiami hutan belantara antara wilayah Kolensusu dan Lasalimu. Saat ini pun mereka masih ada, tetapi keberadaan mereka tidak bisa diliat orang biasa.
2. Suku Kombilo
Suku Kombilo merupakan salah satu suku asli yang mendiami hutan belantara anatara wilayah Watouge dan wilayah Lambelu. Ciri khas suku ini sama dengan suku Wambolebole. Suku ini tidak dapat dilihat oleh masyarakat biasa. Suku ini pula sering mengunjungi pasar-pasar. Mereka jarang berkomunikasi dengan masyarakat biasa.
Apabila mereka bertamu dirumah masyarakat biasa mereka tidak dapat terlihat melainkan hanya suara saja yang terdengar. Sebaliknya apabila masyarakat biasa yang berkunjung diperkampuan suku Kombilo haruslah membawa oleh-oleh berupa ikan Wawokia (Lure/Teri) yang dimasak dan diasapi (Kaholeona Rore), tembikau iris, daun sirih, buah pinang. Lalu berdiri dipinggir jalan sambil menutup mata dan berniat sesuai perjanjian antara tamu dengan anggota suku yang akan dikunjungi. Setelah membuka mata kembali, tamu itupun telah berada diperkampungan suku Kombilo.
3. Suku Wakarorondo (Wakaokili)
Keberadaan suku Wakarorondo (Wakaokili) sama dengan suku Wambolebole dan Kombilo. Suku Wakarorondo (Wakaokili) bermukim pada hutan belantara wilayah Pasarwajo. Suku ini juga hanya dapat terlihat jika berada dipasar dan ketika meninggalkan pasar begitu saja tanpa diketahui kemana arahnya.
Peradaban mereka juga sama, cara berpakaian dan berjalannya sama. Proses berjalannya beriring-irngan dan berjejer satu saf kebelekang, ini disebabkan karena kebiasan mereka berjalan dihutan, yang ada hanya jalan setapak sehingga setiap orang terpaksa berjalan satu-satu, beriringan kebelakang.
Informasi budaya mengatakan suku ini hidup bertani, mengumpulkan hasil hutan, memlihara hewan ternak dan menangkap ikan di sungai. Kepercayaan, agama dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain atauapu berkomunikasi antar mereka sendiri maupun melalui uang mereka gunakan untuk tukar menukar belum diketahui secara pasti.
4 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal









sebuah bukti bahwa Buton telah memiliki masyrakatnya sendiri, tidak dibangun oleh orang lain seperti sejarah buton yanh selama ini direproduksi secara terus-menerus dibangun oleh mia pantamiana.
Berita ini juga pernah saya baca, dan cerita tentang mia patamiana juga. Berarti cerita tentang asal-muasal berdirinya buton ini, mempunyai beberapa versi. Ini bisa menjadi pertanyaan kelak, mana yang betul tentang cerita ini.
Wah…Suku-suku yang aneh tapi nyata, saya Suku Buton aja deh..
Biar gimana anehx suku itu mereka adalah leluhur kita. mereka yang pertama mendiami pulau ini. mereka adalah nenek moyang kita.